kalo di itung-itung udah hampir 12 taun gue sekolah. tapi gue belom nemuin dimana kemampuan gue, bidang yang gue ahli di dalamnya. katanya semua orang punya bakat, tapi gue bingung apa bakat gue, bidang apa yang harus gue tekunin. sebentar lagi un dan masuk ke universitas yang kudu bagus, tapi gue belom punya persiapan apa-apa. masuk jurusan apa, masuk universitas mana, gimana caranya? hwaaaah. semuanya membuat gue pusing, kadang remaja bisa lebih stress dari orang dewasa, dan itu emang bener!
tapi entah kenapa gue ga tertarik lagi sekolah di indonesia, udah banyak konspirasi, spekulasi, dan penyimpangan-penyimpangan pendidikan lainnya. persaingan ketat, biaya kuliah mahal. hwaaaah!. bj habibi aja ga keterima di ui sama itb. gimana gue? gue si sedikit tertarik sama itb dan ipb. gatau kenapa? kayanya bagus aja gitu.
tapi gue punya keinginan buat kuliah di luar negri, mungkin itu hanya sekedar impian, bagi orang yang biasa aja kaya gue. tapi ga salah kan? selama mimpi itu gratis. kita masih punya ALLAH, tempat kita berharap. harapan yang besar. nyokap gue aja, dulu kuliah di ptn yang lumayan favorit dan persaingan ketat tapi dia mampu masuk ke unversitas tersebut dengan sarana seadanya. bokap gue aja bisa masuk stan, padahal kakak kelas gue yang pinter ga bisa masuk situ.
gue pengen lebih dari mereka, dan mereka juga menginginkan gue lebih dari mereka. mereka pengen gue kuliah di luar negri dan gue juga menginginkan hal itu. tapi gue belum menemukan cara efektif untuk belajar dan memahami materi secara cepat. terkadang gue sadar kemampuan gue? apakah gue bisa? tapi gue punya harapan besar, motivasi, support, sarana yang lumayan memadai.
ga ada yang tau misi gue yang satu ini, kecuali gue dan orang tua gue. target gue adalah jepang. selain masih kawasan asia, gue suka semua tentang jepang, kartun-kartunnya, bahasanya, doramanya, gayanya, tatakramanya, etos kerjanya. tapi gue ga suka sama kepercayaan yang mereka miliki, yaitu shinto, tapi ada juga yang atheis, kristen, dan agama2 lainnya selain islam.
tanggal 9 oktober 2011 nanti ada japan education fair di jakarta, semoga aga ada hambatan yang menghalangi gue buat ikut acara itu. siapa tau event itu bisa menjembatani gue buat menuntut ilmu di negri sakura itu. amiiin ya ALLAH.
gue merindukan pendidikan yang jujur, serius, fokus, bisa menjadi ahli, dominan praktek, bermanfaat bagi dunia dan akhirat, maksudnya bisa diamalkan.
gue punya feeling bisa mendapatkan itu di jepang, amin ya ALLAH.
tujuan gue selain ingin lebih mendalami hal yang gue sukai dan menjadi ahli, adalah ingin membanggakan orangtua gue, mereka udah banyak memberi gue, tapi gue belum pernah ngasih apapun buat mereka. mereka ga terlalu menuntut si, tapi gue pengen banget ngeliat mereka bahagia ngeliat gue bisa berprestasi, ga malu maluin jadi anak, mereka ga nyesel punya anak kaya gue. gue pengen mereka menangis bahagia, disaat wisuda nanti. gue sayang banget sama mereka. gue tau mereka punya harapan besar sama anak-anaknya. gue tau mereka ingin semuanya anaknya sukses dan bahagia. gue berharap mereka selalu sehat, dan gue berkesempatan buat bahagiain mereka. amin YA ALLAH.
gue tertarik sama kesehatan, psikologi manusia dan tulis menulis. gue pengen nemuin sesuatu makanan yang sehat dan mengurangi junkfood, agar anak-anak bisa lebih mengoptimalkan kecerdasaanya, gue pengen nemuin barang-barang ramah lingkungan, supaya mengurangi kerusakan bumi. terkadang gue juga pengen jadi trainer dan menyemangati orang-orang kalo ga ada yang ga mungkin kalo lu mau berusaha, berdoa, dan tawakal sama ALLAH. gue juga pengen jadi pendidik, yang lebih mengarah kepada praktek, memiliki aqidah yang bagus, memiliki tujuan belajar yang jelas, dan bisa fokus supaya bisa jadi ahli. gue juga suka nulis, apapun yang gue alamin atau gue dapet, pengen langsung gue tulis, seneng banget nulis di blog gue yang satu ini. gue juga suka nulis cerpen, tapi gue belum punya karya, cuma berhenti di tengah2. hwaaaah!. yaah itulah rencana kedepan gue.
kadang, gue suka rada iri sedikit, ngeliat orang yang berhasil, bisa kuliah di tempat favorit, bisa dapet kerja cepet, punya kemampuan di atas rata-rata. rasanya pengen juga kaya mereka. haha, tapi kata bokap gue orang tekun bakal lebih maju daripada orang pintar. dan gue percaya itu. gue pernah nanya ke nyokap gue, kenapa si ada orang secerdas einstein, bj habibi, al-zahrawi, ibnu sina, archimedes, dkk. kata nyokap gue itu kebetulan. hemff.... gimana ya?
dulu gue emang jarang serius belajar, dan menganggap semuanya gampang. tapi ternyata semakin kedepan persaingan semakin ketat, sulit. dan gue percaya itu. mulai sekarang gue udah mulai coba-coba cari beasiswa, tata cara masuk universitas, tidur larut malem buat belajar, serius les b.ing, mempelajari hal-hal baru. gue berharap usaha gue ga sia-sia.
gue pernah berharap, gapapa deh gue jadi orang terbodoh di suatu kelas yang anaknya pinter semua. asalkan gue masuk sekolah favorit. apakah itu harapan yang salah? gue juga bingung......
gue sering liat di film-film luar negri, sekolahnya pake baju bebas, sarana lengkap, dominan praktek, lebih demokratis dan kritis. pokoknya lebih efisien deh.
kalo indonesia, sekolahnya masih abstrak, pernah ada seorang guru bilang ke gue kaya gitu.
Pekerjaan rumah (PR) dapat didefinisikan sebagai pekerjaan yang ditugaskan oleh seorang guru, sekolah atau lembaga pendidikan, dan harus diselesaikan oleh siswa di rumah atau saat tidak menghadiri kelas. PR terbagi menjadi 3 jenis yaitu: latihan (practice), preparasi (preparation), dan ekstensi (extension). Apabila guru mengajari rumus baru, PR yang diberikan berupa soal-soal untuk menerapkan rumus yang sudah diajarkan, ini jenis PR yang bersifat latihan. Kalau tugas PR diberikan agar siswa mempersiapkan bahan untuk pelajaran yang akan datang, ini adalah jenis PR yang bersifat preparasi. Sedangkan PR jenis ekstensi, PR ini biasanya dibuat agar siswa mampu mengembangkan ilmu yang sudah dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.Menurut pernyataan PTA Nasional dan National Education Association (NEA), jumlah berikut pekerjaan rumah yang direkomendasikan adalah:
Dari TK sampai kelas tiga, tidak lebih dari 20 menit per hari.
Dari kelas empat sampai kelas enam, 20 sampai 40 menit per hari.
Dari kelas tujuh sampai kelas dua belas, jumlah yang disarankan waktu bervariasi sesuai dengan jenis dan jumlah mata pelajaran seorang siswa mengambil. Namun tidak berlebihan hingga menyebabkan kontraproduktif.
Disisi lain, tujuan dari pembuatan PR hanyalah sebatas sarana mengulang pelajaran yang telah dibahas di sekolah atau persiapan materi yang akan dipelajari mendatang. Pemberian PR tersebut bisa menghasilkan manfaat seperti mengajarkan siswa untuk bersosialisasi, membantu siswa mengembangkan keterampilan manajemen waktu dan pekerjaan, meningkatkan komunikasi antara orang tua dengan siswa, dapat melatih dan menumbuhkan kebiasaan belajar, dan dapat menumbuhkan rasa kemandirian, kedisiplinan serta tanggung jawab.
Dilihat dari keterangan diatas penulis berhipotesa bahwa PR adalah tugas yang diberikan guru, dan murid mempunyai tanggung jawab untuk mengerjakannya saat sedang tidak menghadiri kelas. Dapat berjumlah banyak atau sedikit, dapat bersifat sulit atau mudah, dan bersifat menarik atau membosankan, sesuai dengan guru yang bersangkutan. Namun apakah PR mempunyai dampak besar dan positif terhadap hasil belajar siswa full day school, atau bahkan sebaliknya. Sedangkan mereka sudah menghabiskan ± 8 jam berada di sekolah untuk belajar, jika masih diberi PR mungkin mereka harus mengorbankan waktu bersama keluarga, waktu tidur, dan mengganggu liburan akhir pekan. Secara tidak langsung muncul anggapan bahwa PR adalah suatu beban, yang kemudian menyebabkan stress. Dan berdampak pada hasil belajar mereka. Tapi semua itu tergantung bagaimana mereka meyikapinya.
Dari latar belakang yang telah penulis uraikan, telah jelas bahwa penulis ingin mengetahui dampak Pekerjaan Rumah (PR) terhadap hasil belajar siswa full day school.
1.2 Identifikasi Masalah
1.Apakah siswa full day school perlu mendapatkan PR?
2.Apakah tingkatan PR yang terlalu sulit dan banyak dapat menjadi beban atau tekanan pada siswa sehingga menyebabkan stress dan memperburuk psikisnya?
3.Apakah PR sekolah membantu siswa melatih pelajaran yang sudah dipelajari?
4.Apakah semakin banyak PR yang dikerjakan maka hasil belajar semakin baik untuk siswa dan menjamin prestasi akademiknya?
5.Apakah PR sekolah menimbulkan sifat buruk pada siswa?
6.Apakah PR sekolah membangun karakter, kebiasaan kerja, dan keterampilan akademik?
7.Apakah PR sekolah merampas waktu bermain, tidur, kebersamaan keluarga dan waktu latihan yang siswa butuhkan untuk pembangunan fisik, emosional, dan neurologis yang tepat?
8.Apakah tindakan guru memberikan PR berlebihan dan memberi sanksi jika tidak membuat PR termasuk tindakan bullying?
9.Bagaimana dengan PR sekolah yang diberikan terus menerus setiap hari bagi perkembangan siswa?
1.3Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah disebutkan penulis akan membatasi masalah mengenai, sebagai berikut :
1.Apakah siswa full day school perlu mendapatkan PR?
2.Apakah pemberian PR berdampak positif terhadap hasil belajar siswa?
3.Apakah tingkatan PR yang terlalu sulit dan banyak dapat menjadi beban atau tekanan pada siswa?
1.4Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah diatas penulis ingin menyampaikan tentang”Dampak Pemberian Pekerjaan Rumah ( PR ) Terhadap Hasil Belajar Siswa Full Day School”
1.5Tujuan Penelitian
Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui seberapa besar manfaat yang diberikan oleh PR untuk meningkatkan hasil belajar atau prestasi akademik siswa full day school. Dan mengetahui dampak negatif dan positif dari pemberian PR sekolah.
1.6Manfaat Penelitian
1.Bagi orangtua
Agar orang tua mengetahui bahwa perlunya peran dan perhatian orangtua kepada anak jika anak mendapat PR, untuk menjalin komunikasi dan interaksi keluarga yang baik.
2.Bagi siswa
Agar siswa dapat menyikapi lebih baik tentang pemberian PR, kerjakanlah PR dengan senang hati. Tidak sepenuhnya PR membawa efek negatif.
3.Bagi pengajar atau pendidik
Agar pengajar atau pendidik mengetahui cara yang baik untuk memberikan PR kepada anak, dan anakyang bersangkutan pun dapat dengan senang hati mengerjakan PR yang diberikan, tanpa beban dan tekanan. Salah satu caranya adalah no overgiven homework.
4.Bagi penulis
Agar penulis mengetahui cara menyikapi PR yang baik, dan memberi sugesti kepada diri bahwa PR tidak untuk dijadikan beban dan tekanan, tetap dikerjakan namun tidak terlalu memaksakan.
BAB II
LANDASAN TEORITIS
Dampak Pekerjaan Rumah (PR) Terhadap Hasil Belajar Siswa Full Day School
2.1Definisi Dampak
Dampak mempunyai beberapa definisi. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), dampak adalah benturan atau pengaruh kuat yg mendatangkan akibat (baik negatif maupun positif).
Sedangkan menurut kamus kompetensi, dampak adalah keinginan untuk membujuk, meyakinkan, mempengaruhi atau memberi kesan kepada orang lain, dengan tujuan agar mereka mengikuti atau mendukung keinginannya. Kompetensi ini menekankan pada keinginan untuk mempengaruhi atau menimbulkan dampak pada orang lain. Namun Menurut beberapa kamus online, dampak adalah ukur dari berwujud dan tidak berwujudefek (konsekuensi) dari satu hal atau entitastindakan atau pengaruh terhadap yang lain, [Kata benda] yang mencolok dari satu tubuh terhadap yang lain, [Kata benda] konsekuensi kuat, sebuah efek yang kuat, [Kata benda] interaksi kekerasan dari individu atau kelompok masuk ke dalam pertarungan, dan [Verbal] berpengaruh terhadap sesuatu
Jadi yang dimaksud dampak dalam karya ilmiah ini adalah keinginan untuk membujuk, meyakinkan, mempengaruhi atau memberi kesan kepada orang lain, dengan tujuan agar mereka mengikuti atau mendukung keinginannya.
2.2 Definisi Pekerjaan Rumah ( PR )
Untuk melatih dan menumbuhkan keinginan belajar seorang siswa biasanya guru memberikan tugas harian atau perkerjaan rumah yang umumnya disebut sebagai PR sekolah. PR sekolah mempunyai beberapa definisi dari berbagai sumber mulai dari blog, kamus online, bahkan dari seorang siswa itu sendiri. Menurut sebuah blog, PR adalah Pekerjaan rumah adalah pekerjaan yang ditugaskan oleh seorang guru, sekolah atau lembaga pendidikan, harus diselesaikan oleh siswa di rumah atau saat tidak menghadiri kelas. Namun Menurut McDermott, Goldman, dan Varennne, 1984, Pekerjaan Rumah adalah fakta sederhana dan baik diterima.
Sedangkan beberapa kamus online mempunyai definisi dengan kata – kata berbeda namun bermakna sama. Mereka menyebutkan bahwa PR adalah pekerjaanyangseorangguruberikan kepadasiswauntukmelakukannya diluarkelas, pekerjaan seorang siswa di sekolah yang diminta untuk melakukan di rumah, pekerjaan yang dilakukan di rumah khususnya sekolah latihan yang ditetapkan oleh guru, pekerjaan seperti sekolah atau sepotong kerjaan yang dilakukan di rumah, [Kata kerja] tugas sekolah persiapan dilakukan di luar sekolah (terutama di rumah), pekerjaan yang ditugaskan oleh seorang guru yang akan diselesaikan di rumah, definisi untuk pekerjaan rumah hanya sekedar pekerjaan yang dilakukan di rumah dari pengulangan pelajaran di sekolah pada hari itu, sesuatu yang diberikan kepada seseorang seperti tugas atau tanggung jawab, berlatih sesuatu untuk belajar atau meningkatkan beban tambahan atau peningkatan jumlah tugas pada to-do list (daftar yang harus dilakukan), sesuatu yang tampaknya ekstrakurikuler, "pada margin," tangensial, atau di luar ruang lingkup kegiatan utama atau fokus (sebagai PR adalah pekerjaan tambahan yang harus dilakukan di luar kelas), studiataupekerjaanpersiapanlainnyadilakukansebelumbeberapa kegiatan yang biasanyadigunakanuntukkegiatanpersiapansignifikansiataukonsekuensiuntukpelakuseperti, calontidakmelakukanpekerjaan rumahdengan baikdankalahdalamperdebatan.
Pada kesempatan lain seorang siswa dari sekolah smart ekselensia bernama Rofiq berpendapat bahwa PR adalah tugas yang berguna untuk melatih pemahaman asalkan siswa sudah memahami konsep yang diberikan guru.
Namun Wikipedia, salah satu situs terbesar di internetmengartikanPR adalahtugaspekerjaan rumah yang mengacupadatugasyang diberikankepadasiswaoleh gurumerekaakanselesaisebagian besardi luarkelas, danmendapatkan namanyadarifaktabahwa kebanyakan siswamelakukansebagian besar pekerjaantersebutdirumah.
Dari semua definisi yang telah disebutkan penulis menyimpulkan bahwa PR adalah pekerjaan yang ditugaskan oleh seorang guru, sekolah atau lembaga pendidikandari pengulangan pelajaran pada hari itu, dan merupakan suatu tanggung jawab yang harus diselesaikan oleh siswa di rumah atau saat tidak menghadiri kelas.
2.3 Definisi Hasil Belajar
Setiap proses belajar mengajar keberhasilannya diukur dari seberapa jauh hasil belajar yang dicapai siswa. Hasil belajar merupakan suatu puncak proses belajar. Hasil belajar tersebut terjadi terutama berkat evaluasi guru. Hasil belajar dapat berupa dampak pengajaran dan dampak pengiring. Kedua dampak tersebut bermanfaat bagi guru dan siswa.
Namun Woordworth mengatakan hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku sebagai akibat dari proses belajar. Woordworth juga mengatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan aktual yang diukur secara langsung. Hasil pengukuran belajar inilah akhirnya akan mengetahui seberapa jauh tujuan pendidikan dan pengajaran yang telah dicapai.
Lain halnya dengan Bloom yang merumuskan hasil belajar sebagai perubahan tingkah laku yang meliputi domain (ranah) kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik.
I.Enam tingkatan ranah kognitif :
a)Pengetahuan atau ingatan
b)Pemahaman
c)Penerapan
d)Sintesis
e)Analisis
f)Evaluasi
II.Lima tingkatan ranah psikomotorik
a)Peniruan (menirukan gerak)
b)Penggunaan (menggunakan konsep untuk melakukan gerak)
c)Ketepatan (melakukan gerak dengan benar)
d)Perangkaian (melakukan beberapa gerakan sekaligus dengan benar)
e)Naturalisasi (melakukan gerak secara wajar)
III.Lima tingkatan ranah afektif
a) Pengenalan (ingin menerima, sadar akan adanya sesuatu)
b)Merespon (aktif berpartisipasi)
c) Penghargaan (menerima nilai-nilai, setia pada nilai-nilai tertentu)
d)Pengorganisasian (menghubung-hubungkan nilai-nilai yang dipercaya)
e) Pengamalan (menjadikan nilai-nilai sebagai bagian dari pola hidup).
Tipe hasil belajar kognitif lebih dominan daripada afektif dan psikomotor karena lebih menonjol, namun hasil belajar psikomotor dan afektif juga harus menjadi bagian dari hasil penilaian dalam proses pembelajaran di sekolah.
Sedangkan Menurut Dimyati dan Mudjiono hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan dari sisi guru, hasil belajar merupakan saat terselesikannya bahan pelajaran.
Pendapat lain tentang definisi hasil belajar menurut Oemar Hamalik adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti.
Terakhir adalah definisi hasil belajar menurut Howard Kingsley. Ia mengatakan bahwa Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Dan Howard Kingsley membagi 3 macam hasil belajar:
a. Keterampilan dan kebiasaan
b. Pengetahuan dan pengertian
c. Sikap dan cita-cita
Pendapat dari Horward Kingsley ini menunjukkan hasil perubahan dari semua proses belajar. Hasil belajar ini akan melekat terus pada diri siswa karena sudah menjadi bagian dalam kehidupan siswa tersebut.
Jadi pengertian hasil belajar dalam karya tulis ini menurut pendapat penulis adalah suatu puncak proses belajar yang akan menyebabkan perubahan tingkah laku pada orang tersebut. Hasil pengukuran belajar inilah akhirnya akan mengetahui seberapa jauh tujuan pendidikan dan pengajaran yang telah dicapai.
2.4 Definisi Siswa
Siswa merupakan salah satu peran penting dalam suatu pembelajaran selain guru dan sesuatu pembelajaran yang diajarkan. Siswa mempunyai berbagai definisi dari berbagai sumber. Yang pertama menurut salah satu situs tanya jawab di internet. Mereka mengatakan siswa adalah seseorang yang terlibat dalam penelitian, salah yang dikhususkan untuk belajar. Seorang pelajar, seorang murid, sarjana, terutama, orang yang menghadiri sebuah sekolah, atau yang mencari pengetahuan dari guru profesional atau dari buku-buku, seperti, para mahasiswa akademi, sebuah perguruan tinggi, atau universitas, seorang mahasiswa kedokteran, mahasiswa keras.
Selanjutnya menurut Wikipedia, salah satu situs terbesar di internet juga. Situs ini mengatakan bahwa siswaadalahpelajar, atauseseorangyangmenghadirisebuah institusipendidikan. Dibeberapanegara, istilahbahasa Inggris(atau kognitifdalambahasa lain) adalahdiperuntukkan bagi merekayangmenghadiriuniversitas, sementaraanak sekolahdi bawahusiadelapan belas tahun disebutmuriddalambahasa Inggris(atau yang setaradalambahasalain). Dalampenggunaannyaluas, mahasiswadigunakanuntuksiapa saja yangbelajar.
Jadi menurut pendapat penulis siswa itu merupakan individu manusia yang memiliki karakteristik yang sangat kompleks. Setiap individu pastinya memiliki potensi, intelegensi yang berbeda dengan yang lainnya. Semua itu akan membentuk kepribadian yang unik dan khas. Siswa yang satu akan berbeda dengan siswa yang lain.
2.5 Definisi Full Day School
Sistem belajar secara full day school telah banyak diterapkan di sekolah – sekolah di Indonesia. Menurut sebuah blog bernama suharwatu5.blogspot.com full day school adalah salah satu karya cerdik para pemikir dan praktisi pendidikan untuk menyiasati minimnya control orang tua terhadap anak di luar jam-jam sekolah formal sehingga sekolah yang awalnya dilaksanakan 5 sampai 6 jam berubah menjadi 8 bahkan sampai 9 jam.
Disamping itu sebuah situs pemerintah yaitu Lipi.go.id berdefinisi bahwa Kata full day school berasal dari bahasa inggris. Full artinya penuh, day artinya hari sedang school artinya sekolah. Jadi, full day school merupakan sekolah sepanjang hari atau proses belajar mengajar yang dilakuakan mulai pukul 06.45-15.00 dengan durasi istirahat setiap 2 jam sekali. Dengan demikian, sekolah dapat mengatur jadwal pelajaran dengan leluasa, disesuaikan dengan bobot mata pelajaran dan ditambah dengan pendalaman materi .
Namun di sisi lain Sukur basukiberpendapat bahwa full day school adalah sekolah yang sebagian waktunya digunakan untuk program pelajaran yang sebenarnya menyenangkan bagi siswa dan membutuhkan kreatifitas dan inovasi dari guru
Sedangkan menurut Sismanto, full day school merupakan model sekolah umum yang memadukan sistem pengajaran Islam secara intensif yaitu dengan memberi tambahan waktu khusus untuk pendalaman keagamaan siswa. Biasanya jam tambahan tersebut dialokasikan pada jam setelah sholat Dhuhur sampai sholat Ashar, sehingga praktis sekolah model ini masuk pukul 07.00 WIB pulang pada pukul 16.00 WIB.
Jadi menurut pendapat penulis full day school adalah sekolah yang sebagian waktunya digunakan untuk program pelajaran yang sebenarnya menyenangkan bagi siswa dan memudahkan untuk bersosialisasi dengan teman serta membutuhkan kreatifitas dan inovasi dari guru.
BAB III
METODE DAN TEKNIK PENELITIAN
3.1Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di kelas XI IPA Unggulan I dan II yang berada di Gedung Pembelajaran 3 SMA PLUS PGRI CIBINONG Kecamatan Cibinong Kabupaten Bogor. Rencana penelitian akan dilaksanakan selama 4 hari.
3.2Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode angket seperti pembagian angket atau questionare dan hasil belajar berupa nilai raport terhadap siswa yang bersangkutan.
3.3Teknik Penelitian
3.2.1Teknik Pengumpulan Data
a.Pekerjaan Rumah (PR)
Definisi Konseptual
Pekerjaan rumah adalah pekerjaan yang ditugaskan oleh seorang guru, sekolah atau lembaga pendidikandari pengulangan pelajaran pada hari itu, dan merupakan suatu tanggung jawab yang harus diselesaikan oleh siswa di rumah atau saat tidak menghadiri kelas.
b.Hasil Belajar
Definisi Konseptual
Hasil belajar adalah suatu puncak proses belajar yang akan menyebabkan perubahan tingkah laku pada orang tersebut. Hasil pengukuran belajar inilah akhirnya akan mengetahui seberapa jauh tujuan pendidikan dan pengajaran yang telah dicapai.
Instrumen
Tabel 1 Student Questionaire
No.
Pertanyaan
Ya
Tidak
Alasan
1
Menurut anda, apakah pemberian PR kepada siswa itu perlu ?
2
Setelah pelajaran selesai, pernahkah guru memberikan anda PR untuk membantu memahami apa yang telah diajarkan?
3
Pernahkah anda diberi PR sebagai bahan persiapan menghadapi pelajaran mendatang ?
4
Pernahkah anda diberi PR agar ilmu yang dipelajari dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari ?
5
Apakah PR yang diberikandapat diselesaikan dalam waktu antara 1,5 sampai 2,5 jam setiap harinya ?
6
Apakah banyaknya PR mengganggu kebersamaan anda dengan keluarga serta libur akhir pekan anda, bahkanmenyita waktu tidur anda?
7
Apakah PR membantu anda untuk lebih meningkatkan komunikasi dengan orang tua ?
8
Apakah PR membantu anda untuk lebih meningkatkan akses informasi seperti perpustakaan sekolah, internet dan lainnya ?
9
Menurut anda, apakah rajin mengerjakan PR yang banyak membantu anda meningkatkan nilai hasil belajar (raport)?
10
Apakah PR membantu anda dalam mengerjakan soal – soal ulangan?
11
Dari semua pertanyaan yang diberikan mana yang anda pilih :
a.Anda mendapat PR yang banyak dansulit
b.Anda mendapat PR yang mudah, sedikit, tapi menarik. (no overgiven homework system)
c.Anda tidak mendapat PR sama sekali dengan syarat mengerti dan paham pelajaran yang telah disampaikan. (no homework system)
Dalam tabel questionaire, nomor 2 membahas tentang PR jenis practice/penguatan, nomor 3 tentang preparation/persiapan dan nomor 4 tentang extension, dan pada akhir pertanyaan tentang pilihan bagaimana seharusnya PR diberikan menurut opini siswa.
3.2.2Teknik Pengolahan Data
Tabel 2 Perhitungan Student Questionaire
No.
Ya
Tidak
Seri
Abstain
1
10
9
1
-
2
18
2
-
-
3
11
9
-
-
4
11
8
-
1
5
6
14
-
-
6
19
1
-
-
7
3
17
-
-
8
15
5
-
-
9
12
8
-
-
10
16
4
-
-
11
A
B
C
Abstain
-
11
8
1
Pengolahan data yang digunakan adalah diagram pie dalam bentuk persen. Berikut adalah rumus pengolahan dalam bentuk persen :
=→x = .100%
·x= hasil ( % )
·20= Jumlah sampel
·n= Jumlah suara yang memilih ya, tidak, abstain, dan seri
( khusus untuk nomor 11, yaitu memilih A, B, dan C )
3.4Populasi dan Sampel
3.2.3Populasi
Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA Unggulan 1 dan 2 SMA PLUS PGRI CIBINONG. Populasi siswa berjumlah 69.Tabel 3 Populasi
No
Kelas
Jumlah
Jumlah Total
Laki-laki
Perempuan
1
XI IPA Unggulan 1
18
18
36 siswa
2
XI IPA Unggulan 2
18
15
33 siswa
69 siswa
3.2.4Sampel
Sampel penelitian ini diambil secara acak dengan menggunakan cara undian. Sampel yang diambil berjumlah 20 siswa.Tabel 4 Sampel
No
Kelas
Jumlah
Jumlah Total
Laki-laki
Perempuan
1
XI IPA Unggulan 1
3
7
10 siswa
2
XI IPA Unggulan 2
5
5
10 siswa
20 siswa
BAB IV
PEMBAHASAN
Pada bab ini penulis akan membahas dan menganalisis lebih detail mengenai dampak pekerjaan rumah (PR) terhadap hasil belajar siswa full day school berdasarkan student questionare (angket), hasil belajar berupa nilai raport, dan data dari internet.
4.1 Definisi, Tujuan, dan Manfaat dari Pekerjaan Rumah
Pekerjaan rumah (PR) dapat didefinisikan sebagai pekerjaan yang ditugaskan oleh seorang guru, sekolah atau lembaga pendidikan, dan harus diselesaikan oleh siswa di rumah atau saat tidak menghadiri kelas. PR terbagi menjadi 3 jenis yaitu: latihan (practice), persiapan (preparation), dan ekstensi (extension). Tujuan dari pembuatan PR hanyalah sebatas sarana mengulang pelajaran yang telah dibahas di sekolah atau persiapan materi yang akan dipelajari mendatang. Manfaat yang dapat diambil dari pemberian PR contohnya seperti mengajarkan siswa untuk bersosialisasi, membantu siswa mengembangkan keterampilan manajemen waktu dan pekerjaan, meningkatkan komunikasi antara orang tua dengan siswa, memenuhi persyaratan distrik sekolah, dapat melatih dan menumbuhkan kebiasaan belajar, dan dapat menumbuhkan rasa kemandirian, kedisiplinan serta tanggung jawab.
4.2 Penelitian Para Pakar Pendidikan dan Kesimpulannya
Para pakar pendidikan telah banyak yang melakukan pengamatan dan penelitian tentang dampak pekerjaan rumah (PR) dengan hasil belajar siswa. Dari siswa TK hingga sekolah menengah atas. Berikut hasil penelitian dan penuturan mereka :
1.Dr Updale menuturkan pekerjaan rumah tersebut akan membuat anak-anak menghabiskan waktu lebih banyak di dalam kamar atau rumah dibandingkan untuk bermain di luar. Masyarakat harus melepaskan diri dari asumsi bahwa pekerjaan rumah adalah sesuatu yang baik. Padahal anak-anak juga perlu ruang untuk diri mereka sendiri dan melakukan sesuatu yang diinginkannya, karena terkadang beban pekerjaan rumah ini terlalu mengganggu.
2.Muhammad Rizal, Psi, psikolog pendidikan Universitas Indonesia. menuturkan tidak semua pekerjaan rumah mengganggu kehidupan keluarga atau sosial anak. Karena tergantung dari PR yang diberikan seperti apa dengan melihat jumlah serta tingkat kesulitannya. Saat ini memang ada beberapa sekolah yang sudah tidak memberikan PR lagi pada murid-muridnya karena anak-anak sudah belajar di sekolah dari pagi hingga sore hari. Untuk menentukan apakah pekerjaan rumah diangap perlu atau tidak bisa dilihat dari berapa banyak waktu yang sudah dihabiskan anak di sekolah serta apa tujuan dari diberikanya PR tersebut, apakah untuk membantu anak melatih pelajaran yang sudah dipelajari atau untuk memperkuat pelajaran selanjutnya. Pekerjaan rumah sebenarnya juga bisa mengajarkan anak untuk bersosialisasi, karena jika anak tidak bisa mengerjakannya maka ia akan bertanya pada orangtua atau kakaknya.
3.Prof. Harris Cooper, salah satu peneliti terkemuka di bidang ini, dan juga penulis buku The Battle Over Homework: Common Ground for Adminstrators, Teachers, and Parents. Sekolah harus mengikuti aturan “10 menit per malam per level kelas”. Jadi, untuk anak kelas 1 SD maka waktu mengerjakan PR maksimal 10 menit per malam. Untuk kelas 2 SD maksimal 20 menit. Demikian seterusnya.
Prof. Cooper melakukan penelitian tentang pekerjaan rumah (PR) dan hasil review yang dilakukan Prof Cooper, pada tahun 2001, atas lebih dari 120 studi mengenai PR dan efeknya, dan ditambah lagi dengan review, pada tahun 2006, terhadap 60 studi lainnya, dengan topik yang sama, ternyata diperoleh data bahwa hampir tidak ada korelasi antara jumlah PR dan prestasi akademik di SD. Sedangkan untuk level sekolah menengah (SMP/SMU) terdapat korelasi yang moderat antara jumlah PR dan prestasi akademik. Namun jika PR yang diberikan terlalu banyak, di sekolah menengah, justru akan kontraproduktif. Harris Cooper, menyimpulkan setelah sebuah tinjauan komprehensif yang PR tidak meningkatkan prestasi akademik untuk siswa sekolah dasar. Cooper menganalisis puluhan mahasiswa dan menemukan bahwa anak-anak yang ditugaskan PR di sekolah menengah dan tinggi benar-benar skor "agak" lebih baik pada tes standar, tetapi anak-anak yang melakukan 60 sampai 90 menit PR di sekolah menengah dan lebih dari 2 jam di sekolah tinggi skor benar-benar buruk.
4.David Baker dan Gerald LeTendre, profesor pendidikan dan penulis buku National Differences, Global Similarities: World Culture and the Future of Schooling, negara-negara yang terkenal dengan pendidik yang memberikan PR yang banyak, seperti Yunani, Thailand, dan Iran ternyata prestasi akademik murid mereka justru sangat buruk. Sebaliknya negara-negara seperti Jepang, Denmark, dan Czech Republic, yang murid-muridnya menempati ranking tertinggi prestasi akademik dalam skala dunia, ternyata guru-guru di negara ini memberikan sangat sedikit PR. Tujuannya agar anak bisa lebih banyak waktu luang bersama keluarga melakukan berbagai aktivitas di luar kegiatan sekolah, yang menarik minat mereka. Kemudian Prof Baker menyimpulkan bahwa semakin banyak PR yang diberikan kepada murid maka semakin buruk prestasi akademik yang dicapai.
5.Seorang pendidik Amerika, Alfie Kohn (2007) dalam bukunya “No Contest: The Case Against Competition”, mempertanyakan mengapa banyak guru-gurudan orang tua tetap memberikan pekerjaan rumah yang berlebihan pada anak, padahal tidak ada studi yang membuktikan pembelajaran tersebut memberikan keuntungan yang menyeluruh bagi perkembangan anak. Justru menurut Kohn, Pekerjaan rumah yang berlebihan dapat menjadi faktor detrimental bagi perkembangan anak karena ‘merampok’ saat-saat berkualitas mereka bersama keluarga, yang biasanya didapat di malam hari. Selain itu, juga tidak memberikan kesempatan bagi anak untuk benar-benar menjadi anak-anak. Di Amerika, secara umum, pendidikan menggunakan pendekatan ‘Push Teachers’ untuk memberikan setumpuk pekerjaan rumah sebagai usaha untuk membangun karakter anak. Kohn berpendapat justru hal yang dipaksakan ini dapat membunuh intelektualitas anak dan mematikan kreatifitas mereka. Walaupun pendapat Kohn ini tidak didasarkan pada studi-studi kasus yang memadai, namun pendapatnya patut dipertimbangkan.
4.3 Pembahasan berdasarkan penelitian penulis
Kita telah mengetahui dasar-dasar pembahasan mengenai PR seperti keterangan yang telah diuraikan di atas. Oleh karena itu, penulis akan membahas berdasarkan pengamatan dan penelitian yang telah dilakukan.
Tabel 5 Diagram Pie Student Questionaire
No.
Pertanyaan
Diagram Pie
1
Menurut anda, apakah pemberian PR kepada siswa itu perlu ?
2
Setelah pelajaran selesai, pernahkah guru memberikan anda PR untuk membantu memahami apa yang telah diajarkan?
3
Pernahkah anda diberi PR sebagai bahan persiapan menghadapi pelajaran mendatang ?
4
Pernahkah anda diberi PR agar ilmu yang dipelajari dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari?
5
Apakah PR yang diberikan dapat diselesaikan dalam waktu antara 1,5 sampai 2,5 jam setiap harinya ?
6
Apakah banyaknya PR mengganggu kebersamaan anda dengan keluarga serta libur akhir pekan anda, bahkanmenyita waktu tidur anda?
7
Apakah PR membantu anda untuk lebih meningkatkan komunikasi dengan orang tua ?
8
Apakah PR membantu anda untuk lebih meningkatkan akses informasi seperti perpustakaan sekolah, internet dan lainnya ?
9
Menurut anda, apakah rajin mengerjakan PR yang banyak membantu anda meningkatkan nilai hasil belajar (raport)?
10
Apakah PR membantu anda dalam mengerjakan soal – soal ulangan?
11
Dari semua pertanyaan yang diberikan mana yang anda pilih :
a.Anda mendapat PR yang banyak dansulit
b.Anda mendapat PR yang mudah, sedikit, tapi menarik. (no overgiven homework system)
c.Anda tidak mendapat PR sama sekali dengan syarat mengerti dan paham pelajaran yang telah disampaikan. (no homework system)
Penjelasan singkat :
1.Dalam perlu atau tidaknya PR terhadap siswa full day school, memang lebih banyak 5% yang menjawab perlu, namun dilihat dari semua alasan responden mereka merasa terbebani oleh PR tersebut. Karena sudah seharian sekolah, mereka butuh space, butuh istirahat.
2.Terlihat dari jawaban dan alasan responden, mereka telah mengetahui manfaat yang telah diberikan PR seperti membantu memahami pembelajaran yang telah diajarkan (practice), dapat menjadi bahan persiapan pelajaran mendatang (preparation), meningkatkan hasil belajar, membantu mengerjakan soal – soal ulangan, meningkatkan akses informasi, dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari – hari (extention), namun pada extention banyak alasan responden mengatakan lebih mengarah kepada teori/pemahaman daripada penerapan dalam kehidupan sehari – hari. Dari semua manfaat PR mayoritas responden mengetahui dan pernah diberikan PR semacam itu dengan hasil 69,16%.
3.Dalam pemberian PR responden tidak menyukai PR yang menggangu waktu bersama keluarga, waktu tidur, dan libur akhir pekan. Karena waktu – waktu seperti itu biasanya terbatas. Dilihat dari alasan seolah – olah, space yang mereka dapatkan terbatas. Kebanyakan alasan berbunyi “ capek, lebih banyak butuh waktu sama keluarga, bikin liburan sibuk ngerjain tugas, banyak tugas deadline ”. Dalam questionare responden biasa mengerjakan PR lebih dari 2 jam. Responden tidak menyukai pemberian PR seperti itu dengan hasil 83,3%.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dari dampak Pekerjaan Rumah (PR) terhadap hasil belajar siswa full day school diperoleh kesimpulan, yakni sebagai berikut:
Responden mengakui bahwa PR itu diperlukan dalam pembelajaran di sekolah. Kemudian dampak positif dan negatifdari pemberian PR bagi siswa full day school (responden) tergantung dari banyak atau sedikitnya PR, besarnya manfaat yang diberikan, sulit atau mudahnya dan menarik atau tidaknya PR tersebut.
5.2 Saran
Setelah melakukan penelitian tentang dampak pekerjaan rumah terhadap hasil belajar siswa full day school penulis ingin menyampaikan beberapa saran, yakni sebagai berikut:
1.Guru diharapkan lebih inovatif dan kreatif dalam memberikan PR agar mereka semangat dan tidak ada tekanan (no pressure). Kalaupun belum bisa seperti itu manfaatkan waktu mengajar di sekolah untuk mengusahakan siswa full day school yang menghabiskan waktu ±8 jam di sekolah itu mengerti dan paham tentang apa yang telah diajarkan. Sehingga mereka tidak memerlukan PR. Kemudian pulang ke rumah dan mendapatkan waktu – waktu berkualitas yang mereka inginkan.
2.Salah satu solusi yang dapat penulis berikan adalah guru menerapkan sistem no overgiven homework. Yaitu pemberian PR secara tak berlebihan. Sebanyak 55% responden menyukai sistem ini. Dengan begitu tak mengganggu waktu – waktu terbaik mereka. Itu berarti responden menginginkan PR yang tidak berlebihan tetapi menarik. Singkatnya, guru diharapkan mengemas PR yang menunjang hasil belajar namun yang disukai dalam arti menarik.
Ishmah Hanifah (091010049) lahir di Tangerang, pada tanggal 20 Januari tahun 1995, anakpertama dari lima bersaudara dari pasangan Bapak Praptono Djunedi dan Ibu Nurhayati, beralamat di Perum. Griya Anggraini Blok D3/11 RT 04/11 Kec. Citeureup Kab. Bogor. Email : Ishmahhanifah@ymail.com.
Penulis memulai pendidikan formal di TK Triple J pada tahun 1999-2000. Lalumelanjutkan Sekolah Dasar di SDIT Al-Ustmaniyah pada tahun 2000-2006. Melanjutkan ke sekolah menengah pertama di SMPN 1 Citeureup pada tahun 2006-2009. Dan kemudian sampai saat ini penulis bersekolah di jenjang sekolah menengah atas di SMA Plus PGRI Cibinong pada tahun 2009- sekarang.